Friday, 9 September 2011

Dear Paper ...

aku masih virgin kaka


Hayy kertas kosong, sebenarnya aku suka mengusik kekosonganmu, aku selalu gemes untuk menodaimu dengan tinta, kuhiasi badanmu penuh huruf dan gambar, karena itu adalah hal yang aku suka dari kecil. Sekarang? Oh jangan tanya sekarang aku untuk menulis saja lupa bagaimana caranya, tiap kali kugoyangkan penaku, urat-urat ini serasa mau putus. Namun aku tak mau menyerah aku berusaha untuk menggaulimu, aku berhasil. Tapi tulisanku jelek sekali, lebih jelek dari anak SMP, menyedihkan. Poor me :(

Bahkan sekarang aku sudah lupa bagaimana untuk bercerita, bercerita tentang apa dan siapa, dan mengapa aku harus bercerita pada secarik kertas putih kosong sepertimu? Tak kan ada yang membaca tulisanku. Semua orang dijaman globalisasi ini udah lupa cara menggoyangkan pena, mereka hanya tau memukulkan jemari meeka pada apa yang disebut keyboard. Ya kita tak perlu mengindahkan huruf-huruf pada kertas, benda aneh bernama komputer itu tau bagaimana membuatnya indah. Hebat bukan?

Orang-orang sudah malas menulis, mereka lupa bagaimana caranya. Tapi THANKS GOD ! semoga orang-orang membenci kertas sehingga penebangan pohon akan sedikit berkurang. Syukur-syukur perusahaan kertas merugi. Tapi apa yang terjadi jika bumi tak ada kertas? Semua orang bisa mengakses apa yang mereka lihat tanpa mencetaknya? Apa yang terjadi? Coba bayangkan ...

Sampah elektronik

di indo udah laku keras ni barang-barang

Dampaknya mungkin gak terlalu keliatan di Indonesia, tapi di Jepang? televisi, komputer, handphone, peralatan industri, jadi sampah yang menggunung. Padahal para ilmuwan secara kompak berpendapat bahwa masalah yang berkaitan dengan sampah berupa barang elektronik merupakan bahaya yang paling mengancam kelangsungan hidup di planet bumi kita, setelah masalah pemanasan global. Ya, dunia saat ini memang sudah dipenuhi oleh berbagai barang elektronik yang canggih namun ternyata dapat membahayakan kelangsungan makhluk hidup lainnya ketika benda tersebut menjadi sampah dan tidak digunakan dengan bijaksana.

Sungguh ironis bumi yang kita tinggali ini.

No comments:

Post a Comment